Test Footer 2

11:48
0
Kerajaan: Chromalveolata
Filum: Heterokontophyta
Kelas: Oomycota / Oomycetes
Ordo: Saprolegniales
Family: Saprolegniaceae
Genus: Saprolegnia

Saprolegnia merupakan cendawan berfilamen, organisme tidak bersekat (koenositik) yang hidup pada habitat air tawar dan untuk mendapatkan makanan mereka hidup secara saprofit atau parasit (Hughes, 1994 dalam Mulyani, 2006). Cendawan ini masuk dalam kelas Oomycetes, yang hidup dengan memakan limbah dari ikan atau sel-sel mati lainnya. Mereka hidup dengan mengambil keuntungan dari makhluk yang telah terluka, dan selanjutnya dapat menular atau menyebar pada jaringan sehat tubuh lainnya. Pada umumnya, serangan Saprolegnia biasanya terjadi pada kondisi kualitas air yang buruk, seperti sirkulasi air kurang/buruk, kadar oksigen terlarut rendah, kadar H2S tinggi, atapun kandungan bahan organik yang tinggi.

Biasanya kehadiran jamur Saproglegnia sering juga disertai dengan oleh kehadiran infeksi bakteri Columnaris, atau parasit eksernal lainnya yang akan semakin memperparah infeksi pada inang tersebut. Penyakit infeksi oleh jamur ini biasa dikenal luas sebagai penyakit Mikosis. Kehadiran Saprolegnia biasanya ditandai dengan munculnya benda seperti kapas pada kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan. Jamur ini dapat tumbuh pada kisaran suhu antara 0 – 35oC, namun akan tumbuh dengan optimal pada suhu 15 – 30oC. Saprolegnia sering ditemukan menginfeksi pada jenis ikan air tawar, namun demikian jamur ini juga mampu hidup pada kondisi perairan payau atau bahkan tanah yang lembab saja. Ciri lain yang dimiliki oleh Saprolegnia adalah memiliki sporangium yang berdiameter 100 mikron, lebih lebar dari hifanya. 

Beberapa contoh yang bersifat patogen pada ikan adalah Saprolegnia parasitica, Saprolegnia diclina dan Saprolegnia ferax (Neish dan Bruno, 2002 dalam Mulyani, 2006). Filamen jamur Saprolegnia berbentuk panjang dengan ujung bulat, berisi zoospora. Mereka hidup dalam koloni yang terdiri dari satu atau lebih spesies. Koloni ini umumnya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna keabu abuan karena mungkin terpengaruh oleh precesence dari bakteri yang ada disitu. 

Saprolegnia biasanya merupakan pathogen yang bersifat sekunder, namun demikian dalam kondisi yang tepat dan memungkinkan, jamur ini mampu bertindak sebagai pathogen primer. Kasus seperti ini sering terjadi ikan, baik di alam maupun di lingkungan bak. Saprolegnia akan menyebar di seluruh permukaan inangnya melalui nekrosis seluler pada jaringan epidermis yang rusak yang akan berakibat fatal hingga akhirnya menyebabkan haemodilution, meskipun waktu untuk kematian inang sangat bervariasi tergantung pada lokasi awal infeksi, tingkat pertumbuhan dan kemampuan organisme tersebut untuk menahan stres infeksi.

Serangan Saprolegnia dapat dihindari dengan melakukan perawatan yang baik terhadap kondisi akuarium, terutama dengan menjaga kualitas air agar selalu dalam kondisi optimal, hindari pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi untuk mencegah terjadinya luka, dan selalu menjaga kondisi ikan dengan mempertahankan asupan gizi yang memadai.
https://atrium.lib.uoguelph.ca/xmlui/handle/10214/6112